Rabu, 19 Oktober 2011

Cabai


CABAI
Menurut hasil studi pustaka yang kami lakukan kami telah mendapatkan beberapa pemahaman tentang cabai. Berikut penjelasannya :
A.      PENGERTIAN CABAI
Cabai atau cabe merah atau lombok (bahasa Jawa) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Bagi seni masakan Padang, cabai bahkan dianggap sebagai "bahan makanan pokok" kesepuluh (alih-alih sembilan). Sangat sulit bagi masakan Padang dibuat tanpa cabai.
Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.
B.       MANFAAT CABAI
Cabai merah Besar (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang memilki nilai ekonomi yang tinggi. Cabai mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia. [1]. Sun et al. (2007) melaporkan cabai mengandung antioksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan radikal bebas. Kandungan terbesar antioksidan ini adalah pada cabai hijau. Cabai juga mengandung Lasparaginase dan Capsaicin yang berperan sebagai zat anti kanker (Kilham 2006; Bano & Sivaramakrishnan 1980).
Cabai (Capsicum annum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi [2] dan memiliki beberapa manfaat kesehatan yang salah satunya adalah zat capsaicin yang berfungsi dalam mengendalikan penyakit kanker. Selain itu kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada cabai dapat memenuhi kebutuhan harian setiap orang, namun harus di konsumsi secukupnya untuk menghindari nyeri lambung.
C.      FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan
·         Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2
·         Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
·         Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2
·         Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm
·         Siramkan SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt)
Ø  Super Nasa : 1 btl dilarutkan dalam 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk. Atau 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA dan siramkan ke bedengan + 5-10 m.
Ø  NASA : 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 2-4 tutup NASA dan siramkan ke bedengan sepanjang + 5 - 10 meter.
·      Campurkan GLIO 100 - 200 gr ( 1 - 2 bungkus ) dengan 50 - 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu dan sebarkan ke bedengan.
·      Bedengan ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1 - 2 minggu ).
2. Benih
·         Kebutuhan per 1000 m2 1 - 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30
·         Biji direndam dengan POC NASA dosis 0,5 - 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.
D.      FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
1.    Persiapan Persemaian
·      Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
·      Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.
2.      Penyemaian
·      Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring
·      Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS
·      Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban
3.      Pengamatan Hama & Penyakit
a.       Penyakit
·      Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.
·      Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.
·      Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.
b.      Hama
·      Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah atau lipatan pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.
·      Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA untuk mengurangi penyebaran.
·      Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip
E.  FASE TANAM
1.      Pemilihan Bibit
·      Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus
·      Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 - 30 hari)
2.      Cara Tanam
·      Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.
·      Plastik polibag dilepas
·      Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki.
3.      Pengamatan Hama
·         Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat yang ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dengan PESTONA atau VIREXI
·         Ulat Grayak ( Spodoptera litura & S. exigua ),
Ciri ulat yang baru menetas / masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut/badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian. Semprot dengan VITURA, VIREXI atau PESTONA.
·         Bekicot/siput. Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) dan buang ke luar areal.
F.   FASE PANEN DAN PASCA PANEN
1.      Pemanenan
·      Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
·      Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya
·      Setelah pemetikan ke-3 disemprot dengan POC NASA + Hormonik dan dipupuk dengan perbandingan seperti diatas, dosis 500 cc/ph
2.      Cara panen :
·      Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
·      Pemanenan yang baik pagi hari setelah embun kering
·      Penyortiran dilakukan sejak di lahan
Catatan :
ü  Umur 1 - 4 mg 4 kali aplikasi (± 7 tong/ aplikasi)
ü  Umur 5-12 mg 8 kali aplikasi (± 14 tong/aplikasi)
3.      Penyemprotan POC NASA ke tanaman dengan dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 dan 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.
4.      Perempelan, sisakan 2-3 cabang utama / produksi mulai umur 15 - 30 hr.
5.      Pengamatan Hama dan Penyakit
·      Spodoptera litura/ Ulat grayak Lihat depan.
·      Kutu - kutuan ( Aphis, Thrips, Tungau ), lihat fase persemaian.
·      Penyakit Layu, disebabkan beberapa jamur antara lain Fusarium, Phytium dan Rhizoctonia. Gejala serangan tanaman layu secara tiba-tiba, mengering dan gugur daun. Tanaman layu dimusnahkan dan untuk mengurangi penyebaran, sebarkan GLIO
·      Penyakit Bercak Daun, Cercospora capsici. Jamur ini menyerang pada musim hujan diawali pada daun tua bagian bawah. Gejala serangan berupa bercak dalam berbagai ukuran dengan bagian tengah berwarna abu-abu atau putih, kadang bagian tengah ini sobek atau berlubang. Daun menguning sebelum waktunya dan gugur, tinggal buah dan ranting saja. Akibatnya buah menjadi rusak karena terbakar sinar matahari. Pengamatan pada daun tua.
·      Lalat Buah (Dacus dorsalis), Gejala serangan buah yang telah berisi belatung akan menjadi keropos karena isinya dimakan, buah sering gugur muda atau berubah bentuknya. Lubang buah memungkinkan bakteri pembusuk mudah masuk sehingga buah busuk basah. Sebagai vektor Antraknose. Pengamatan ditujukan pada buah cabai busuk, kumpulkan dan musnahkan. Lalat buah dipantau dengan perangkap berbahan aktif Metil Eugenol 40 buah / ha

·      Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides), gejala serangan mula-mula bercak atau totol-totol pada buah yang membusuk melebar dan berkembang menjadi warna orange, abu-abu atau hitam. Bagian tengah bercak terlihat garis-garis melingkar penuh titik spora berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan seluruh bagian buah mengering. Pengamatan dilakukan pada buah merah dan hijau tua. Buah terserang dikumpulkan dan dimusnahkan pada waktu panen dipisahkan. Serangan berat sebari dengan GLIO di bawah tanaman.

G.      UPAYA PENANGGULANGAN HAMA

Sebenarnya sudah dilakukan upaya untuk mengendalikan serangan lalat buah ini, di antaranya adalah pembrongsongan yang dapat mencegah serangan lalat buah. Akan tetapi, cara ini tidak praktis untuk dilakukan pada tanaman cabai dalam areal yang luas. Sementara penggunaan insektisida selain mencemari lingkungan juga sangat berbahaya bagi konsumen buah. Oleh karena itu, diperlukan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan cocok untuk diterapkan di areal luas seperti di lahan sentral produksi cabai. Upaya pengendalian lalat buah pada tanaman cabai, khususnya cabai merah, adalah penggunaan insektisida sintetik karena dianggap praktis, mudah didapat, dan menunjukkan efek yang cepat.
Adiyoga dan Soetiarso (1999) melaporkan 80% petani sayuran menggunakan pestisida untuk mengendalikan penyakit tanaman. Akan tetapi penggunaan insektisida tersebut sering meninggalkan residu yang berbahaya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia (Duriat 1996). Disamping harga insektisida sintetik yang mahal, dampak dari adanya residu insektisida sintetik dalam bidang ekonomi adalah penolakan ekspor oleh banyak negara tujuan ekspor atas produk-produk cabai yang mengandung residu fungisida dan pestisida lain (Caswell & Modjusca 1996). Di antara insektisida yang banyak digunakan dalam pengendalian serangan lalat buah pada cabai adalah Diazinon, Dursban, Supracide, Tamaron dengan konsentrasi 3-5%, dan Agrothion (Pracaya 1991).

Kami juga telah melakukan wawancara kepada seorang petani cabai yang telah sukses menanam cabai dan mendapatkan untung yang besar dari komoditi tersebut. Berikut penjelasan yang telah beliau jelaskan :






HASIL WAWANCARA
1.      Nama Responden                                : A. Syafiudin Malik
2.      Umur Responden                                : 40 tahun
3.      Pekerjaan pokok dari Responden       : Petani
4.      Alamat Responden                             : Dsn. Pohgurih Ds. Sumolawang, Puri
  Mojokerto
5.      Kepemilikan Lahan                             :
a.       Lahan yang diolah                  : Milik sendiri
b.      Luas Lahan                             : 5.000 m2
c.       Jenis lahan                               : Sawah
d.      Sistem pengairan lahan           : Pengairan tersier
6.      Jenis komoditi/tanaman yang dibudidayakan : Cabai
7.      Sistem pola tanaman yang di pakai     : Monokultur
8.      Alat dan Bahan
a.       Penggunaan alat oleh petani   :
1.      Jenis alat         : Cangkul, traktor, spayer, alat kocor, gejik, drum air
2.      Spesifikasi      : alat modern
3.      Jumlah            : 6
4.      Kondisi           : Baik
b.      Bahan yang disediakan          :
1.      Nama benih(varietas/spesies) : Cabai Restu
2.      Ketentuan benih                     : Berdasarkan ketentuan dari pertanian
Jumlah                                    : 8.000 buah
Umur benih                            : 21 buah
Keperluan benih per luas lahan : 2.000 m2
9.      Kegiatan yang dilakukan petani dalam membuat tempat pembibitan :
a.       Pembersihan lahan            : Dicabut/dibabat dan ditanam/dipendam di lahan
  sebagai pengganti pupuk
b.      Jenis dan ukuran tempat pembibitan :
1.      Jenis tempat pembibitan          : tempat pembibitan memakai naungan/atap
  peneduh tanaman
2.      Ukuran tempat pembibitan
Luasan yang dipakai tempat pembibitan : 3 X 6m
3.      Langkah – langkah pembuatan pembibitan
a.       Memakai perkecambahan                                                             ya/tidak
b.      Adanya tempat persemaian benih                                                ya/tidak
c.       Adanya perlakuan penyapihan bibit                                             ya/tidak
d.      Proses pembudidayaannya mulai dari perlakukaan perkecambahan dan pertumbuhannya langsung dilahan pembiakan                                   ya/tidak


A    FASE PRATANAM
1.      Pengolahan lahan
Perlakuan yang dilakukan adalah pertama tanah yang akan ditanami dikeringkan kemudian diairi, selanjutnya dibiarkan sampai 1 minggu, kemudian dilakukan pembajakan, 1 minggu kemudian diairi lagi, tanah di naikkan ke atas, lalu diberi mulsa, selanjutnya di tanami bersamaan dengan dilakukan pengairan pada tanaman tersebut.

2.      Benih
Benih yang akan ditanam memiliki kentetuan berumur 21 hari yang di pindahkan dari tempat pembibitan ke sawah.

B    FASE PERSEMAIAN

Pada awalnya dilakukan pencairan tanah yang mengandung banyak humus. Tanah di gali kemudian dilembutkan dan dilakukan penyaringan. Tanah yang telah di proses tersebut di masukkan kantong plastik kecil, dengan ketentuan tanah dimasukkan sedikit demi sedikit sambil dipadatkan tetapi tidak terlalu padat. Plastik yang di isi di sisakan 4cm. Kemudian baru benih di masukkan 1 per 1 di setiap plastik yang telah di isi tanah. Bibit yang dimasukkan adalah bibit terbaik sehingga dapat mengalami perkembangan sekitar 80 %. Setiap pagi dan sore dilakukan penyiraman pada bibit tersebut. Di atas penaruhan bibit tersebut dengan menggunakan naungan yang berasal dari plastik/terpal sehingga bibit tidak terkena langsung sinar matahari sehingga tanaman dapat berkembang dengan baik. Pemberian obat anti hama dengan dosis rendah sehingga bibit mengalami pertumbuhan yang bagus sampai bibit berumur 21 hari.

C    FASE TANAM
Sebelum di tanami dilakukan perlakuan terhadap tanah dahulu yaitu pemberian pupuk dasar pada tanah serta pemberian obat anti hama. Setelah dilakukan perlakuan untuk tanah, dilakukan pengecekan bibit yang akan di tanam. Bibit yang akan di tanam memiliki ketentuan telah berusia 21 hari dengan ukuran panjang 50cm dan lebar 80cm.
Penanaman dibersamakan dengan pengairan tanah sehingga tanaman tidak mudah layu.Untuk pengamatan hama, mulai umur 1 minggu tanaman cabai sudah mulai disemprot insectisida/pembasimi hama seperti ulat, kupu – kupu, katak,dll. Untuk selanjutnya setiap minggu dilakukan penyemprotan rutin sehingga tanaman tidak terganggu oleh hama pengganggu tanaman sampai tanaman cabai tersebut berbuah bahkan sampai habis masa produktifnya.

D    FASE PANEN
Ketika cabai berumur 18 hari cabai sudah mulai berbunga dan sekitar umur 70 hari cabai mulai masak dan sudah dapat di panen. Pemanenan awalnya dilakukan sedikit kemudian dilanjutkan dengan menambah kapasitas panennya. Apalagi saat panen ke 7 merupakan puncak panen. Panen dapat dilakukan 1 minggu sekali bahkan bisa dilakukan 3 hari sekali. Hasil panen tersebut bisa langsung di bawa ke pasar untuk di jual sehingga beratnya tidak menyusut dengan cepat.


E    PENANGGULANGAN HAMA

Untuk penanggulangan hama hari diprioritaskan apalagi saat tanaman cabai sudah bebuah, pengobatan tidak boleh terlambat sebab berakibat bagi petani cabai sendiri. Pengobatan dilakuakan setiap 3 hari sekali dengan obat yang beraneka ragam mulai dari obat anti hama yang terdiri dari berbagai macam obat cair dan bubuk sehingga tanaman terhindar dari penyakit. Untuk pemupukan dapat dilakukan 3 hari sekali dengan melarutkan segala macam bentuk pupuk dengan air, sedangkan untuk pupuk yang cair tidak perlu dicampur dengan air. Kemudian untuk penyiraman dilakukan untuk setiap tanaman. Pemupukan harus dilakukan dengan rutin agar didapatkan hasil panen yang memuaskan.








KESIMPULAN

Dari hasil studi pustaka dan wawancara yang kami lakukan, kami dapat mengamati bahwa perlakuan yang dilakukan petani tersebut hampir sama dengan prosedur yang telah terpirinci. Petani itu melakukan fase – fase yang memperhatikan sumber daya lingkungan sekitar sehingga yang dilakukan tidak merugikan lingkungan yang ada di sekitarnya. Dari keterangan di atat dapat di jelaskan perbedaan yang ada diantara studi pustaka dan wawancara yang dilakukan adalah terletak pada keterangan tentang obat –obat hama dan ukuran obat yang digunakan. Dalam studi pustaka yang kami lakukan telah dijelaskan seberapa banyak kebutuhan obat – obat hama yang diperlukan dalam pemeliharaab tanaman cabai. Tetapi dari wawancara tersebut dijelaskan penjualan hasil panen, sedangkan dalam studi pustaka itu tidak dijelaskan penjualan hasil panen tanaman tersebut.Karena itu, secara umum dapat di simpulkan bahwa fase – fase antara studi pustaka dan wawancara memilki kesamaan dalam beberapa hal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar